Salahkah Seorang Ikhwah Memilih Calon Istri yang Cantik?
Kecantikan tetap merupakan daya tarik yang memikat setiap lelaki di dunia ini. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka dan memang tak bisa dipungkiri! Begitupula masalah memilih pasangan hidup tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur dalam setiap kriteria itu diantara salah satunya adalah menginginkan calon istrinya berwajah cantik atau sedap dipandang mata, tidak membosankan. Salahkah bila seorang ikhwan menghendaki atau menginginkan seorang istri yang cantik?
Wahai ukhti saudariku,.. jangan bersungut dahulu menyalahkan si ikhwan yang berselera demikian. Karena pernikahan itu sendiri adalah ibadah, terkadang iman akan naik dan turun. Tentunya sangat membutuhkan sebab-sebab yang dapat merekatkan tali pernikahan dimasa mendatang. Bila kecantikan adalah merupakan daya tarik bagi si ikhwan itu yang nantinya akan mengekalkan hubungan percintaan (pernikahan)dan kasih sayangnya kepada wanita yang akan di nikahinya maka islam tidaklah melarangnya. Karena ia adalah adat atau kebiasaan yang berlaku pada manusia. Coba kita simak hadits berikut ini, dari Abu Hurairah dari Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:
“wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”1
Kemudian marilah kita simak penjelasan fiqh hadits diatas:2
Dalam hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang adat atau kebiasaan laki-laki menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara diatas.Yaitu diantara mereka mengutamakan (cenderung) kepada harta, kemulian keturunannya (nasabnya), kecantikannya, dan karena agama si wanita tersebut.Kemudian Nabi kita yang mulia memberikan petunjuk kepada kita agar memilih yang tertinggi dan termulia yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu pilihlah yang beragama.Yaitu maksudnya wanita yang shalihah.
Tetapi hal ini tidak berarti bahwa laki-laki tidak boleh memilih wanita yang cantik dan seterusnya. Tidak demikian! Ini adalah sebuah kesalahan di dalam memahami hadits. Akan tetapi maksudnya -Insya Allah- seperti ini:
Misalnya ada seorang laki-laki memilih wanita yang cantik parasnya. Kemudian dia melihat apakah pilihannya seorang wanita shalihah? Kalau jawabannya adalah: ‘ya’ maka dia boleh melanjutkan pilihannya. Kiaskanlah dengan keistimewaan yang lainnya! Tetapi kalau jawabannya ‘tidak’, maka dia dihadapkan kepada dua pilihan yang salah satunya harus dia tentukan dan tetapkan. Kalaupun dia melanjutkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan kecantikan dari keshalihan.Kalaupun dia membatalkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan keshalihan (agama) dari kecantikan. Atau ketika akan memilih dia menentukan sesuai dengan apa yang dia mau atau sesuai dengan seleranya misalnya: “Saya akan memilih wanita yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang begini dan begitu dan seterusnya.” Pilihan yang seperti ini dibolehkan dan agama tidak pernah melarangnya.Karena memang berjalan dengan adat atau kebiasaan yang berlaku pada manusia. Oleh karena itu Nabi kita shalallahu alaihi wassalam mengatakan: “Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara…”
Akan tetapi tetap saja penentuan akhirnya ada pada agama si akhwat tersebut, sebagaimana sabda Nabi mengakhiri dan menutup sabdanya: Maka pilihlah yang beragama! Maksudnya janganlah kau kalahkan agamamu dengan segala kecantikan dan harta benda duniawi. Padahal sebaik-baik kesenangan, kemewahan, harta benda dunia adalah wanita shalihah. Kalau pilihanmu jatuh pada wanita shalihah berarti engkau telah memiliki harta benda dan kesenangan dunia yang terbaik. Istimewa kalau wanita shalihah pilihanmu itu seperti yang kau ingini. Hukum ini juga berlaku bagi setiap muslimah yang akan menjatuhkan pilihannya kepada laki-laki muslim.
Setelah tahu penjelasan hadits diatas tentu kita melihat betapa indahnya islam sejalan dengan fitrah manusia. Karena kecenderungan merupakan hak mutlak bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk mengekalkan hubungan mereka maka islampun menganjurkan agar mereka melihat (nazhar) hal-hal yang dapat membuat mereka tertarik untuk segera menikah dan salah satunya adalah faktor kecantikan yang dimana terkadang sangat mempengaruhi hati atau hasrat seorang laki-laki untuk segera menikahi wanita yang telah dilihatnya. Wallahu ‘alam.
Sumber: - Al Masail Masalah-masalah Agama jilid 7, Abdul hakim Abdat, Darus Sunnah, Jakarta, 2006. - Fiqh Wanita, Syaikh Kamil Uwaidah, Pustaka Kautsar.
Posted at 11:40 pm by Shofiyah
Dec 28, 2008
Yang Terlupa dari Keikhlasan
Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan.
Amal seorang hamba tidak akan diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.
Allah berfirman yang artinya, "Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya." (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata, "Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)"�
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut.
Namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ? Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum'ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia.
Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, "Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya."�
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur'an , haji dan amal-amal ibadah lainnya.
Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas.
Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, 'Hendak ke mana engkau ?'� maka dia pun berkata 'Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.'� Maka malaikat itu kembali bertanya 'Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?' orang itu pun menjawab: 'Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah', malaikat itu pun berkata 'Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya."� (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu." (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan 'hanya'� dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar?
Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita. Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut.
Abdullah bin Mubarak berkata, "Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat."�
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya."� (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya.
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya." (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya.
Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?'� maka Rasulullah pun menjawab: 'Dia tidak mendapatkan apa-apa.'� Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: 'Dia tidak mendapatkan apa-apa.' Kemudian beliau berkata: 'Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.'� (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai).
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya.
Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: 'Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.' (Qs. Shod: 82-83).
Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya "Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas." ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat.
Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
*** Penulis: Abu 'Uzair Boris Tanesia Muroja'ah: Ust. Ahmad Daniel, Lc.
Posted at 01:30 am by Shofiyah
Jun 5, 2007
Mutiara Nasehat Abdullah Bin Mas'ud
Seorang laki-laki berada di sisi beliau dan berkata, "Aku tidak
ingin menjadi golongan kanan, aku ingin termasuk golongan muqarrabun
saja." Abdullah berkata, "Bahkan disini ada orang yang apabila
meninggal nanti tidak ingin dibangkitakan." (yakni beliau)
* Suatu saat beliau keluar dan diikuti oleh
beberapa orang. Beliau bertanya kepada mereka, "Adakah kalian memiliki
kepentingan sehingga mengikutiku?" Mereka menjawab,"Tidak ada, kami
hanya ingin berjalan bersama anda." Abdullah berkata, "Kembalilah
kalian, sesungguhnya yang demikian ini menyebabkan hina bagi yang
mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti."
* Abdullah berkata,
"Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada diriku sebagaimana yang
aku ketahui tentang diriku, niscaya akan kalian taburkan tanah di
kepalaku."
* Abdullah berkata, "Barangsiapa mengerjakan
kebaikan, niscaya Allah akan memberi kebaikan kepadanya dan barangsiapa
menjaga dari kejahatan, niscaya Allah akan menjaganya."
* Orang-orang yang bertakwa adalah pemuka, para ahli fiqih adalah pemimpin, bergaul dengan mereka akan menambah kebaikan."
*
Sebaik-baik perkara yang dibenci adalah kematian dan kefakiran. Demi
Allah tidak ada lain kecuali kaya atau miskin. Aku tidak peduli, dengan
yang mana aku diuji. Aku hanya berharap kepada Allah dalam keadaan kaya
atau miskin. Bila kaya, semoga Allah memberiku kedermawanan. Apabila
fakir, semoga Allah memberiku kesabaran.
* Selagi engkau dalam
shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu Raja. Barangsiapa mengetuk
pintu Raja, niscaya akan dibukakan baginya.
* Bila zina dan riba telah dilakukan dengan terang-terangan di suatu desa, pertanda akan datang kehancurannya.
*
Carilah hatimu di tiga tempat, saat mendengar Al-Qur'an, di tempat
majelis dzikir dan saat-saat menyendiri. Bila engkau tidak
mendapatinya, maka mohonlah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati
(yang baru) kepadamu, karena sesungguhnya engkau sudah tidak lagi
memiliki hati.
* Tiada sesuatupun di muka bumi yang lebih perlu untuk lama dipenjara daripada lisan.
* Ilmu bukanlah karena banyaknya menghafal riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut.
* Setiap pandangan yang haram adalah santapan bagi syetan
*
Sudah sepantasnya bagi pembawa Al-Qur'an menghidupkan malamnya di saat
manusia tidur, shaum di siang hari di saat manusia berbuka, menunjukkan
kesedihannya saat manusia bersenang-senang, menangis di saat manusia
tertawa, diam saat manusia banyak bicara, khusyu' saat manusia sombong.
Hendaknya seorang pembawa Al-Qur'an senantiasa menangis, sedih,
bijaksana, lemah lembut dan tenang. Dan tidak sepantasnya seorang
pembawa Al-Qur'an itu keras hati, lalai, banyak bicara dan kasar.
*
Bersama kegembiraan pasti ada kesedihan. Tiada rumah yang mendapatkan
kenikmatan, melainkan mendapatkan pula pelajaran. Masing-masing kalian
adalah tamu, sedangkan hartanya adalah pinjaman. Setiap tamu akan
segera pulang, sedangkan pinjaman dikembalikan kepada pemiliknya.
Diambil dari: (jilbab.or.id) Menjadi Kekasih Allah, Bersama Pakar Rohani Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Penerbit Pustaka At-Tibyan
Banyak
syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat
yang 'ngetrend' dan biasa kita dengar adalah " Buat apa berjilbab kalau
hati kita belum siap, belum bersih, masih suka 'ngerumpi' berbuat
maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting
kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat
kawannya tadi.
Syubhat
lainnya lagi adalah " Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi:
Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah
melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi
hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita
tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti,, ??
Saudariku
muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan
berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah
Ta'ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang
mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka
rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang
hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang
yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan orang kafir lainnya liatlah
dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah
lembut, dermawan, bijaksana. Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka
adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan "tentu tidak! karena
mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam,
perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan
sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang
berdasarkan perbuatan yang nampak(zahir) dalam diri orang
itu.
Lalu
bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan
berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah
ataukah tidak? Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir
(dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul
fiqih yang mengatakan "alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu
"ala llah' artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak
adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah.
Rasanya
tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin
(istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula
istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita
yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi
mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna
(lihat QS: 24 ayat 31 dan QS: 33 ayat 59) tak ada satupun riwayat
termaktub mereka menolak perintah Allah Ta'ala. Justru yang kita dapati
mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti
ketaatan mereka.Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai
hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa
hadits diatas ada sambungannya. Lengkapnya adalah sebagai berikut:
"Dari
Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata,
Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk
tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian,
tetapi Dia melihat hati-hati kalian "(HR. Muslim 2564/33).
Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada nomor hadits 34 sebagai berikut:
"Sesungguhnya
Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian,
tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34).
Semua
adalah seiring dan sejalan, hati dan amal. Apabila hanya hati yang
diutamakan niscaya akan hilanglah sebagian syariat yang mulia ini.
Tentu kaum muslimin tidak perlu bersusah payah menunaikan shalat 5
waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau
bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah
haji ketanah suci Mekah atau amal ibadah lainnya. Tentu para sahabat
tidak akan berlomba-lomba dalam beramal (beribadah) cukup mengandalkan
hati saja, toh mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini.
Akan tetapi justru sebaliknya mereka adalah orang yang sangat giat
beramal tengoklah satu kisah indah diantara kisah-kisah indah lainnya.
Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya, Ayahnya adalah Zubair bin
Awwam, Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah adalah Abu
Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah Aisyah Radhiyallahu anha istri
Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Urwah lahir dari nasab dan
keturunan yang mulia jangan ditanya tentang hatinya, ia adalah orang
yang paling lembut hatinya toh masih bersusah payah giat beramal,
bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang pohon yang tegak
tidak bergeming karena lamanya ia berdiri ketika shalat.
Aduhai,..betapa lalainya kita ini,..banyak memanjangkan angan-angan dan
harapan padahal hati kita tentu sangat jauh suci dan mulianya
dibandingkan dengan generasi pendahulu kita. Wallahu'alam bish-shawwab.
Mengenalnya, bergaul bersama dengannya, dan menjadi bagian darinya adalah sesuatu anugerah terindah dari Allah. Mereka adalah orang-orang yang begitu tawadhu, menjaga iffah mereka. Di tengah kesibukannya sebagai seorang mahasiswa yang bergelut dengan berbagai aktivitas perkuliahan mereka masih disibukkan dengan berbagai aktivitas dakwah.
Mereka begitu berbeda dibanding dengan mahasiswa pada umumnya yang hanya disibukkan oleh masalah-masalah akademis sehingga begitu idealnya pribadi mereka yang terbentuk di kepala ini.
Namun, Saat ingin mengungkapkan ide-ide tentang dakwah ini dengan begitu semangatnya, ana berharap engkau akan menanggapinya dengan sebaliknya atau sekadar mengiyakan atau bila memang tidak benar engkau akan membenarkannya.
Tapi tidak seperti itu, berharap engkau malah berkata hal yang membuat ana kecewa. Hanya diam dan bertanya-tanya di hati terus duduk beberapa menit di sampingmu berharap dapat menghapus sedikit kekecewaan padamu.
Tulisan ini bukan ungkapan kekecewaan kepadanya, tapi sekedar tanya di hati saat hati ini terluka dibuatnya.
Dan kembali ana tersadar, dia hanya seorang manusia, sama dengan diri ini .Tidak terlambat bila Allah menyadarkan hambaNya bahwa berharap sesuatu yang lebih kepada manusia akan berujung kepada sesuatu kekecewaan walaupun ia sahabat dekat kita, keluarga kita bahkan kepada pemimpin yang menjadi qudwah kita. Karena memang bukan kepadanyalah harapan itu harus di tujukan tapi kepada yang telah menciptakanNya.
Karena tak ada manusia yang sempurna di dunia ini selain Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam yang Allah telah menjaganya dan memeliharanya dari perbuatan-perbuatan dosa. Seideal apapun manusia tersebut ia tetap merupakan hamba Allah yang dapat berbuat kesalahan dan sehebat apapun manusia tersebut dihadapan mata kita, ia tetap hamba Allah yang lemah.
Jadi, bolehkah kecewa dengannya?
Kembali bertanya ke hati-hati kita untuk siapa selama ini kita berjuang? Bila untuk mereka kita memang pantas untuk merasa kecewa, tapi sadarilah sebelum terlambat bahwa perjuangan ini hanya untuk meraih keridhaanNya.
Ikhlaskan niat-niat kita yang mungkin sudah agak miring oleh tiupan angin di sekeliling kita dan tanamkan dalam hati kita bahwa hidup kita adalah untuk dakwah dan dakwah adalah perjuangan.
Jangan hanya karena masalah yang sebenarnya kecil, kita malah pergi meninggalkannya.
Dan renungkanlah Quran surah almaidah ayat 45:
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui."
Maafkan ana saudaraku bila sedikit kekecewaan padamu membuatmu juga terluka.....[afwan!!]
Andai kita tahu muara kehidupan kita niscaya kita akan memberikan seluruh usia, jiwa dan raga kita untuk mendapatkan tempat terindah pun.... andai kita tahu batas akhir perjalanan kita niscaya tidak kan ada detik-detik yang berlalu sia-sia...
.:: Pelita
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan"
.:: Bekal
"Berbahagialah....karena di akhirat terdapat kebahagiaan sejati"