Terkena 'virus merah jambu', demikian istilahnya jika seseorang dilanda perasaan ini, Jatuh cinta.. Musibah ato anugrah? Ada dua sikap frontal yang sesungguhnya tidak layak dilakukan seorang muslim dan muslimah saat mendapatkan kehadiran sang "cinta" disaat ia belum terikat hubungan resmi suami-istri, dengan orang yang dicintainya :
Pertama, membiarkan cinta itu tumbuh bekembang, lalu memolesnya dengan angan-angan, yang akhirnya menjebaknya dalam zina mata , zina hati, zina telinga bahkan - wal iyadzu billah - zina sesungguhnya
Kedua, mengutuki cinta tersebut dan mencoba mengenyahkannya tanpa memedulikan sama sekali, lalu berkeyakinan bahwa cinta semacam itu adalah murni dosa, dan tidak boleh hadir sebelum seseorang terikat hubungan pernikahan.
Maka, cobalah kita menyadari, bahwa hasrat cinta sebelum menikah itu seperti hasrat makan dan minum disiang hari di bulan ramadhan. hasrat itu tidak boleh dibunuh atau dianggap sampah dan haram sama sekali. Namun, juga jangan dibiarkan tumbuh bersemi semakin menyekap hati, saat ia belum menjadi "halal" untuk dinikmati.
Wuih, memang sulit berada dalam dua sikap itu, padahal itu adalah keharusan.
Kita tidak boleh patah semangat dan beranggpan bahwa kehadiran 'pink love' yang begitu tiba2 adalah semata-mata musibah bagi kita. Bahwa orang yang terkena endapan sang 'cinta'mutlak sebagai orang yang pecundang' tak layak di sebut sebagai juru da'wah, penuntut ilmu, apalagi ulama.
Catat, manusia- manusia terbaik seperti Yusuf 'alaihissalam dan umar bin abdul aziz, juga pernah mengalami cinta kepada wanita yang belum halal sebagai istrinya, tapi mereka mampu meredam cinta tersebut, sehingga hanya menjadi onggokan rasa yang tak mengusik sedikitpun ibadah dan ketakwaan mereka.
Sebuah kisah menarik tentang Fhatimah dan 'Ali, dua remaja yang tumbuh di bawah asuhan kenabian. sebuah dialog "suamiku..." kata fhatimah "sebelum menikah denganmu aku pernah sangat menyukai seorang laki-laki dan aku sangat ingin menikah dengannya" berubah rona wajah 'Ali mendengar kalimat ini. Cemburu, marah, penasaran campur aduk jadi satu. Tapi tetap dengan kelembutan dan perasaannya yang halus dia berkata "apakah engkau menyesal menikah denganku?" Fhatimah tersenyum geli melihat ekspresi sang suami "tidak" ucapnya pelan "karena lelaki itu adalah ..,engkau.."
Ehm,ehm...jangan membayang-bayangkankan jadi fhatimah dan 'Ali dulu ya! cinta boleh jadi ada. Tapi Fhatima tahu kapan saatnya mengungkapkan agar ianya tidak menjadi penyakit di hati masing2. Bandingkan jika kau ungkap cintamu sekarang tapi Allah tak hendak menikahkanmu dengannya. Bukankah hanya rasa sakit yang kau rasa? Bukankah ia merusak kesucian jiwa?
Saudaraku, sahabatku... cinta yang sehat belum menuntut apa-apa, jika belum ada ikrar halal atasnya. Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah, Islam memposisikan segala sesuatu dalam porsinya yang pas dan menentramkan. Kita tidak menjumpai perintah, bahkan terlarang untuk membunuh cinta dan hawa nafsu dengan merahibkan diri.
Dan tentu sebaliknya, kita tidak diperkenankan mengumbarnya menjadi sumber penyakit, malapetaka, dan bencana kemasyarakatan. Islam meletakkan cinta dan hawa nafsu dalam kemuliaan. Kemuliaan berarti kendali terhadapnya, yang dipenuhi rasionalitas, kemanfaatan, jiwa pelestarian, pembangunan dan kematangan.
Maka Islam menghadirkan, bahkan sangat menganjurkan sebuah solusi bagi cinta dan syahwat itu: pernikahan. Sebuah ikatan yang menyatukan dua insan dalam cinta. cinta adalah perekat hubungan dua insan dalam rumah tangga islami. Maka, sungguh cinta adalah anugrah.
Rabbi... bila ku jatuh hati Ku ingin terbang cepat
Hingga syaithan tak sanggup hinggap
--Shofiyah---
written by Shofiyah at 07:18 pm
Make a comment Permalink
Kecantikan tetap merupakan daya tarik yang memikat setiap lelaki di dunia ini. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka dan memang tak bisa dipungkiri!
Begitupula masalah memilih pasangan hidup tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur dalam setiap kriteria itu diantara salah satunya adalah menginginkan calon istrinya berwajah cantik atau sedap dipandang mata, tidak membosankan. Salahkah bila seorang ikhwan menghendaki atau menginginkan seorang istri yang cantik?
Wahai ukhti saudariku,.. jangan bersungut dahulu
menyalahkan si ikhwan yang berselera demikian. Karena pernikahan itu sendiri adalah ibadah, terkadang iman akan naik dan turun. Tentunya sangat membutuhkan sebab-sebab yang dapat merekatkan tali pernikahan dimasa mendatang. Bila kecantikan adalah merupakan daya tarik bagi si ikhwan itu yang nantinya akan mengekalkan hubungan percintaan (pernikahan)dan kasih sayangnya kepada wanita yang akan di nikahinya maka islam tidaklah melarangnya. Karena ia adalah adat atau kebiasaan yang berlaku pada manusia. Coba kita simak hadits berikut ini, dari Abu Hurairah dari Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:
“wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”1
Kemudian marilah kita simak penjelasan fiqh hadits diatas:2
Dalam hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang adat atau kebiasaan laki-laki menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara diatas.Yaitu diantara mereka mengutamakan (cenderung) kepada harta, kemulian keturunannya (nasabnya), kecantikannya, dan karena agama si wanita tersebut.Kemudian Nabi kita yang mulia memberikan petunjuk kepada kita agar memilih yang tertinggi dan termulia yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu pilihlah yang beragama.Yaitu maksudnya wanita yang shalihah.
Tetapi hal ini tidak berarti bahwa laki-laki tidak boleh memilih wanita yang cantik dan seterusnya. Tidak demikian! Ini adalah sebuah kesalahan di dalam memahami hadits. Akan tetapi maksudnya -Insya Allah- seperti ini:
Misalnya ada seorang laki-laki memilih wanita yang cantik parasnya. Kemudian dia melihat apakah pilihannya seorang wanita shalihah? Kalau jawabannya adalah: ‘ya’ maka dia boleh melanjutkan pilihannya. Kiaskanlah dengan keistimewaan yang lainnya! Tetapi kalau jawabannya ‘tidak’, maka dia dihadapkan kepada dua pilihan yang salah satunya harus dia tentukan dan tetapkan. Kalaupun dia melanjutkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan kecantikan dari keshalihan.Kalaupun dia membatalkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan keshalihan (agama) dari kecantikan. Atau ketika akan memilih dia menentukan sesuai dengan apa yang dia mau atau sesuai dengan seleranya misalnya: “Saya akan memilih wanita yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang begini dan begitu dan seterusnya.” Pilihan yang seperti ini dibolehkan dan agama tidak pernah melarangnya.Karena memang berjalan dengan adat atau kebiasaan yang berlaku pada manusia. Oleh karena itu Nabi kita shalallahu alaihi wassalam mengatakan: “Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara…”
Akan tetapi tetap saja penentuan akhirnya ada pada agama si akhwat tersebut, sebagaimana sabda Nabi mengakhiri dan menutup sabdanya: Maka pilihlah yang beragama! Maksudnya janganlah kau kalahkan agamamu dengan segala kecantikan dan harta benda duniawi. Padahal sebaik-baik kesenangan, kemewahan, harta benda dunia adalah wanita shalihah. Kalau pilihanmu jatuh pada wanita shalihah berarti engkau telah memiliki harta benda dan kesenangan dunia yang terbaik. Istimewa kalau wanita shalihah pilihanmu itu seperti yang kau ingini. Hukum ini juga berlaku bagi setiap muslimah yang akan menjatuhkan pilihannya kepada laki-laki muslim.
Setelah tahu penjelasan hadits diatas tentu kita melihat betapa indahnya islam sejalan dengan fitrah manusia. Karena kecenderungan merupakan hak mutlak bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk mengekalkan hubungan mereka maka islampun menganjurkan agar mereka melihat (nazhar) hal-hal yang dapat membuat mereka tertarik untuk segera menikah dan salah satunya adalah faktor kecantikan yang dimana terkadang sangat mempengaruhi hati atau hasrat seorang laki-laki untuk segera menikahi wanita yang telah dilihatnya. Wallahu ‘alam.
Sumber:
- Al Masail Masalah-masalah Agama jilid 7, Abdul hakim Abdat, Darus Sunnah,
- Fiqh Wanita, Syaikh Kamil Uwaidah, Pustaka Kautsar.
written by Shofiyah at 11:40 pm
Apa Itu Ikhlas ?
Namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ? Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum'ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia.
Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, "Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya."�
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur'an , haji dan amal-amal ibadah lainnya.
Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas.
Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan 'hanya'� dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar?
Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita. Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut.
Abdullah bin Mubarak berkata, "Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat."�
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya.
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya.
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya.
Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya "Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas." ( Qs. Yusuf : 24).
Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat.
Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
*** Penulis: Abu 'Uzair Boris Tanesia Muroja'ah: Ust. Ahmad Daniel, Lc.
written by Shofiyah at 01:30 am
Seorang laki-laki berada di sisi beliau dan berkata, "Aku tidak ingin menjadi golongan kanan, aku ingin termasuk golongan muqarrabun saja." Abdullah berkata, "Bahkan disini ada orang yang apabila meninggal nanti tidak ingin dibangkitakan." (yakni beliau)
* Abdullah berkata, "Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada diriku sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku, niscaya akan kalian taburkan tanah di kepalaku."
* Abdullah berkata, "Barangsiapa mengerjakan kebaikan, niscaya Allah akan memberi kebaikan kepadanya dan barangsiapa menjaga dari kejahatan, niscaya Allah akan menjaganya."
* Orang-orang yang bertakwa adalah pemuka, para ahli fiqih adalah pemimpin, bergaul dengan mereka akan menambah kebaikan."
* Sebaik-baik perkara yang dibenci adalah kematian dan kefakiran. Demi Allah tidak ada lain kecuali kaya atau miskin. Aku tidak peduli, dengan yang mana aku diuji. Aku hanya berharap kepada Allah dalam keadaan kaya atau miskin. Bila kaya, semoga Allah memberiku kedermawanan. Apabila fakir, semoga Allah memberiku kesabaran.
* Selagi engkau dalam shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu Raja. Barangsiapa mengetuk pintu Raja, niscaya akan dibukakan baginya.
* Seringkali syahwat mengakibatkan sedih berkepanjangan.
* Bila zina dan riba telah dilakukan dengan terang-terangan di suatu desa, pertanda akan datang kehancurannya.
* Carilah hatimu di tiga tempat, saat mendengar Al-Qur'an, di tempat majelis dzikir dan saat-saat menyendiri. Bila engkau tidak mendapatinya, maka mohonlah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati (yang baru) kepadamu, karena sesungguhnya engkau sudah tidak lagi memiliki hati.
* Tiada sesuatupun di muka bumi yang lebih perlu untuk lama dipenjara daripada lisan.
* Ilmu bukanlah karena banyaknya menghafal riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut.
* Setiap pandangan yang haram adalah santapan bagi syetan
* Sudah sepantasnya bagi pembawa Al-Qur'an menghidupkan malamnya di saat manusia tidur, shaum di siang hari di saat manusia berbuka, menunjukkan kesedihannya saat manusia bersenang-senang, menangis di saat manusia tertawa, diam saat manusia banyak bicara, khusyu' saat manusia sombong. Hendaknya seorang pembawa Al-Qur'an senantiasa menangis, sedih, bijaksana, lemah lembut dan tenang. Dan tidak sepantasnya seorang pembawa Al-Qur'an itu keras hati, lalai, banyak bicara dan kasar.
* Bersama kegembiraan pasti ada kesedihan. Tiada rumah yang mendapatkan kenikmatan, melainkan mendapatkan pula pelajaran. Masing-masing kalian adalah tamu, sedangkan hartanya adalah pinjaman. Setiap tamu akan segera pulang, sedangkan pinjaman dikembalikan kepada pemiliknya.
Diambil dari: (jilbab.or.id) Menjadi Kekasih Allah, Bersama Pakar Rohani Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Penerbit Pustaka At-Tibyan
written by Shofiyah at 02:53 am
Make a comment Permalink
Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang 'ngetrend' dan biasa kita dengar adalah " Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka 'ngerumpi' berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat kawannya tadi.
Syubhat lainnya lagi adalah " Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti,, ??
Saudariku muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta'ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan orang kafir lainnya liatlah dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah lembut, dermawan, bijaksana. Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan "tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam, perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang berdasarkan perbuatan yang nampak(zahir) dalam diri orang itu.
Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah ataukah tidak? Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan "alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu "ala llah' artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah.
Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31 dan QS: 33 ayat 59) tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Ta'ala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka.Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya. Lengkapnya adalah sebagai berikut:
"Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian "(HR. Muslim 2564/33).
Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada nomor hadits 34 sebagai berikut:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34).
Semua adalah seiring dan sejalan, hati dan amal. Apabila hanya hati yang diutamakan niscaya akan hilanglah sebagian syariat yang mulia ini. Tentu kaum muslimin tidak perlu bersusah payah menunaikan shalat 5 waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Mekah atau amal ibadah lainnya. Tentu para sahabat tidak akan berlomba-lomba dalam beramal (beribadah) cukup mengandalkan hati saja, toh mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini. Akan tetapi justru sebaliknya mereka adalah orang yang sangat giat beramal tengoklah satu kisah indah diantara kisah-kisah indah lainnya. Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya, Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah adalah Abu Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Urwah lahir dari nasab dan keturunan yang mulia jangan ditanya tentang hatinya, ia adalah orang yang paling lembut hatinya toh masih bersusah payah giat beramal, bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang pohon yang tegak tidak bergeming karena lamanya ia berdiri ketika shalat. Aduhai,..betapa lalainya kita ini,..banyak memanjangkan angan-angan dan harapan padahal hati kita tentu sangat jauh suci dan mulianya dibandingkan dengan generasi pendahulu kita. Wallahu'alam bish-shawwab.
written by Shofiyah at 06:43 am
Make a comment Permalink
Mereka begitu berbeda dibanding dengan mahasiswa pada umumnya yang hanya disibukkan oleh masalah-masalah akademis sehingga begitu idealnya pribadi mereka yang terbentuk di kepala ini.
Namun, Saat ingin mengungkapkan ide-ide tentang dakwah ini dengan begitu semangatnya, ana berharap engkau akan menanggapinya dengan sebaliknya atau sekadar mengiyakan atau bila memang tidak benar engkau akan membenarkannya.
Tapi tidak seperti itu, berharap engkau malah berkata hal yang membuat ana kecewa. Hanya diam dan bertanya-tanya di hati terus duduk beberapa menit di sampingmu berharap dapat menghapus sedikit kekecewaan padamu.
Tulisan ini bukan ungkapan kekecewaan kepadanya, tapi sekedar tanya di hati saat hati ini terluka dibuatnya.
Dan kembali ana tersadar, dia hanya seorang manusia, sama dengan diri ini .Tidak terlambat bila Allah menyadarkan hambaNya bahwa berharap sesuatu yang lebih kepada manusia akan berujung kepada sesuatu kekecewaan walaupun ia sahabat dekat kita, keluarga kita bahkan kepada pemimpin yang menjadi qudwah kita. Karena memang bukan kepadanyalah harapan itu harus di tujukan tapi kepada yang telah menciptakanNya.
Karena tak ada manusia yang sempurna di dunia ini selain Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam yang Allah telah menjaganya dan memeliharanya dari perbuatan-perbuatan dosa. Seideal apapun manusia tersebut ia tetap merupakan hamba Allah yang dapat berbuat kesalahan dan sehebat apapun manusia tersebut dihadapan mata kita, ia tetap hamba Allah yang lemah.
Jadi, bolehkah kecewa dengannya?
Kembali bertanya ke hati-hati kita untuk siapa selama ini kita berjuang? Bila untuk mereka kita memang pantas untuk merasa kecewa, tapi sadarilah sebelum terlambat bahwa perjuangan ini hanya untuk meraih keridhaanNya.
Ikhlaskan niat-niat kita yang mungkin sudah agak miring oleh tiupan angin di sekeliling kita dan tanamkan dalam hati kita bahwa hidup kita adalah untuk dakwah dan dakwah adalah perjuangan.
Jangan hanya karena masalah yang sebenarnya kecil, kita malah pergi meninggalkannya.
Dan renungkanlah Quran surah almaidah ayat 45:
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui."
Maafkan ana saudaraku bila sedikit kekecewaan padamu membuatmu juga terluka.....[afwan!!]
Uhibbuki Fillah..
-- hari2 menjelang semester, 30 Juni 06--
written by Shofiyah at 09:10 pm
Make a comment Permalink
Don't buy Vista Security
